PENDIDIKAN ISLAM MENDATANG

Standard

1. Pendidikan Islam Masa Datang

Masa depan pendidikan Islam di negara-negara Isalam tergantung pada kesadaran, keikhlasan dan daya jihad para pendidiknya, disamping pada kesungguhan pemerintah dalam menerapkan syariat Islam diberbagai lapangan kehidupan. Berjalannya pendidikan Islam mutlak diperlukan bagi terjaminnya ketentraman dan ketenangan jiwa dalam melaksanakan Hukum Allah.

Pendidikan dimasa lampau telah menghasilkan generasi mukmin yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakatnya serta memberikan kedamaian dan kebahagian kepada umat manusia. Dimasa sekarang pendidikan Islam menghadapi berbagai tantangan yang dahsyat. Seluruh komponen kaum muslimin: individu dan kelompok, bangsa dan masyarakat, serta negara dan pemerintah, hendaknya saling membahu dalam menghadapi tantangan tersebut. Ini merupakan kewajiban dan amanat Islam sebagai manisfestasi kedudukan khalifah Allah dimuka bumi.

Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh (Qs. Al-Ahzab : 72).

Berikut akan dikemukakan beberapa konsep dan saran strategis yang diharapkan berguna bagi pelaksanaan pendidikan Islam menuju masa depan yang cerah

1) Pendidikan Islam bersifat dinamis dan merupakan bagian integral dari konsep tentang kehidupan yang lahir dari risalah Islam. Manusia merupakan agen perubahan dan pendidikan merupakan alat perubahan. Maka untuk menciptakan masyarakat yang islami pendidikan Islam harus dijadikan alat perubahannya.

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Qs.Ar-Ra’d:11).

Dapat dikatakan, pendidikan adalah proses pengubahan tingkah laku manusia menuju tujuan yang dikehendaki.

2) Para pendidik muslim dan kementerian pendidikan dinegara negara muslim perlu membangun filsafat pendidikan islam bagi lembaga-lembaga pendidikan disemua jalur dan jenjang. Dengan filsafat tersebut dirumuskan dengan tujuan-tujuan pendidikan, baik pendidikan jalur sekolah maupun luar sekolah, baik jenjang sekolah maupun perguruan tinggi.

3) Perlu perhatian terhadap profesi pendidikan dan usaha praktis untuk menyeragamkan azas-azas kurikulum berdasarkan islam dinegara-negara muslim.

Dalam pemilihan calon pendidik, selain dilihat indeks prestasinya juga perlu dilakuakan wawancara. Dengan wawancara tersebut proses pemilihan tidak akan memberi peluang kepada orang yang akidahnya lemah, jiwanya sakit dan materialistis untuk memegang profesi yang mulia ini. Untuk itu, perlu dirumuskan kode etik islami tentang profesi pendidik; kemudian, calon pendidik bersumpah untuk melaksanakannya dan mengatur tingkah lakunya baik umum maupun khusus, dalam menjalankan profesi dan tanggung jawabnya.

Karena suatu hikamah yang dikendaki-Nya Allah menjadikan rasulnya sebagai contoh teladan yang baik semua mukmin,

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat (QS. Al-Ahzab: 21)

4) Usaha terus menerus untuk memberantas buta huruf secara tuntas didunia muslim. Sebuah ironi yang tidak dapat ditolerir ialah masih adanya orang yang tidak mampu membaca di tengah-tengah masyarakat yang disebut sebagai umat iqra’. Padahal kemajuan sosial budaya dan ekonomi umat tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmiah, peradaban, dan teknologi. Peningkatan taraf hidup individu dan masyarakat serta penguasaan ilmu dan teknologi di segala lapangan kehidupan. Langkah pertama penguasaan ilmu adalah penguasaan keterampilan dasar belajar., yaitu baca tulis dan pemberantasan buta huruf secara total Allah bersumpah dengan pena:

Artinya : Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis (QS. Al-Qalam:1)

Allah menganjurkan penggunaan peralatan belajar dalam mengungkap hal-hal yang belum diketahui:

Artinya : Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. ( QS. Al-‘Alaq : 4-5 )

Allah menyebut-nyebut nikmat yang dilimpahkan kepada rasul-Nya, yaitu ilmu dan kegiatan mengajarkan ilmu kepada umat Islam :

Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al-Jumu’ah : 2)

Dalam pada itu, semua negara muslim hendaknya menjalankan langkah-langkah strategis kegiatan ilmiah, antara lain sebagai berikut :

8 Kewajiban belajar bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, sejauh fasilitas material memungkinkan Rasulullah saw, bersabda:

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.

8 Umat perlu menghidupkan kembali risalah masjid sebagai pusat ilmu dan belajar, sehingga masjid dipenuhi halaqat (forum) pembelajaran yang dimulai dengan baca tulis bagi orang yang belum menguasainya dan dilanjutkan dengan memperdalam berbagai cabang ilmu syariat.

8 Pengembangan lembaga-lembaga pendidikan umum keberbagai kelompok masyarakat, baik sipil maupun militer, formal maupun informal. Dengan demikian, pendidikan sepanjang hayat akan dapat dinikmati oleh setiap warga negara apapun kedudukan, fungsi, dan profesinya. Proses tersebut merupakan realisasi terhadap firman Allah sebagai berikut :

Artinya : Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”(QS. Thaahaa:114)

5) Sekolah harus memperhatikan integritas perkembangan individu dengan mendidiknya agar beriman, berilmu, beramal, berakhlak. Suka melakukan pengabdian sosial, dan cinta kepada tanah airnya.

6) Motivasi terselenggaranya universitas Islam di semua negara muslim, menghapus secara total gagasan dikotomi dalam pendidikan, dan berupaya memelihara integritas risalah universitas tersebut dengan tetap memperhatikan kurikulumnya, dan teknologi di sisi lain.

Penyelenggaraan universitas-universitas Islam didasarkan atas tujuan-tujuan sebagai berikut :

8 Menanamkan akidah dan budaya Islam ke dalam jiwa para pemuda, antara lain metode Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah kontemporer.

8 Mempersiapkan para spesialis muslim di semua lapangan yang dibutuhkan masyarakat muslim, sehingga menjadi masyarakat yang mandiri dan tidak menjadi mangsa kerakusan para penjajah yang banyak memperalat para pakarnya untuk tujuan merusak.

7) Memperhatikan pendidikan para pemudi muslimah yang sesuai dengan kodratnya, karena pendidikan ini memiliki urgensi bagi terciptanya rumah tangga, masyarakat, dan generasi yang muslim.

8) Memperhatikan pendidikan profesional dan teknis di semua bidang untuk menciptakan sumber daya manusia yang terampil serta mampu memikul tugas pengembangan ekonomi dan sosial negara-negara muslim. Sumber daya manusia mukmin yang memiliki kompetensi merupakan modal paling berharga  yang dimiliki umat. Namun, perhatian terhadap pendidikan profesional dan teknis di semua bidang tersebut perlu diimbangi dengan perhatian terhadap pendidikan akademis umum.

9) Meningkatkan perhatian terhadap bahasa Arab Al-Qur’an serta melakukan arabisasi istilah-istilah ilmiah di berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan; menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di segala jenjang pendidikan; serta memerangi propaganda pengembangan dialek populer (‘amiyyah) yang menggantikan kedudukan bahasa Arab Al-Qur’an di lapangan pendidikan, media masa, dan penerangan. Semua itu disebabkan bahasa Arab bertalian erat dengan Islam serta kebudayaan dan peradabannya. Allah berfirman:

Artinya : Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam. (QS. Al-Syura:7)

Artinya : Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, Yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,(QS. Fushshilat:3)

Rasulullah saw, bersabda :

Ketahuilah, sesungguhnya Arab itu adalah bahasa.

2. Perguruan Tinggi Islam dan Intensifikasi

Ada 3 (tiga) tugas utama dan fungsi pokok yang dilaksanakan oleh suatu perguruan tinggi atau universitasnya, yaitu fungsi di bidang pendidikan, fungsi penelitian, dan fungsi pengabdian kepada masyarakat. Tiga tugas dan fungsi pokok ini dalam dunia akademis dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

a. Memacu Kegiatan Penelitian

Sebenarnya, kendala utama dalam melakukan berbagai program penelitian bagi para dosen atau staf pengajar pada perguruan tinggi atau universitas pada masa sekarang ini tidak lagi selalu terletak sepenuhnya pada masalah pencarian dan perolehan biaya atau dana yang layak dan memadai.

Dewasa ini banyak yayasan dan lembaga di tanah air kita yang begitu bermurah hati mengalokasikan sejumlah dana dan memberikan sejumlah bantuan finansial yang memadai kepada para dosen dan staf pengajar perguruan tinggi atau para peneliti pada umumnya untuk melakukan berbagai kegiatan penelitian sesuai dengan bidang kajian dan disiplin ilmu mereka masing-masing.

Di samping itu, dana penelitian dapat pula diperoleh oleh para dosen / staf pengajar dari perguruan tinggi atau universitas masing-masing yang diambilkan dari alokasi dana anggaran-perguruan tinggi dan universitas yang bersangkutan. Setiap perguruan tinggi atau universitas tentunya menyediakan sejumlah dana yang dialokasikan untuk menunjang program kegiatan penelitian (sebagai salah satu fungsi dari tri dharma perguruan tinggi) yang tentunya telah diprogramkan pada awal tahun anggaran oleh perguruan tinggi tersebut.

b. Penelitian Agama : Refleksi Kritis

Sejak paruh kedua tahun 1970-an, lembaran sejarah kehidupan keagamaan di Indonesia mengalami babak baru. Agama dianggap sebagai salah satu unsur penting dalam kehidupan kemasyarakatan di Indonesia, yang karena itu perlu mendapat perhatian dari negara. Sejalan dengan itu, maka kegiatan pengkajian dan penelitian masalah-masalah keagamaan juga mengalami babak perkembangan baru.

Melalui Keputusan Menteri Agama No.18 Tahun 1975, yang merupakan penjabaran dari Keputusan Presiden RI No.45 Tahun 1974, dalam struktur Organisasi Departemen Agama dibentuk Badan Penelitian dan Pengembangan Agama (Badan Litbang Agama) sebagai sebuah unit baru. Salah satu tugas utama Badan Litbang Agama adalah membantu jajaran pimpinan Departemen Agama untuk menyediakan bahan-bahan telaah, kajian atau studi yang diperlukan bagi pengambilan berbagai kebijakan dan perencanaan Departemen Agama dalam jangka panjang.[6]

Sesuai dengan tugas dan fungsi yang diembannya, Badan Litbang Agama adlah aparat pemerintah yang secara institusional, melakukan kegiatan penelitian sendiri dan mengkoordinasikan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan tentang berbagai masalah keagamaan yang dilakukan oleh unit-unit penelitian, khususnya yang berada di bawah naungan Departemen Agama, termasuk dalam lingkungan IAIN (Institut Agama Islam Negeri).

Sebaliknya, kegiatan-kegiatan penelitian agama yang mengungkap dan menangkap sosok-sosok realitas sosial yang sangat empirik oriented banyak dilakukan oleh Badan Litbang Agama pada Departemen Agama. Penelitian-penelitian jenis ini biasanya memang dilakukan agak ekstensif sehingga hasilnya kaya dengan temuan data-data empirik yang diambil di berbagai lapangan atau lokasi penelitian di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Secara keseluruhan, hasil-hasil penelitian yang dihasilkan oleh seluruh unit penelitian di lingkungan Departemen agama, dapat dipastikan sudah ribuan jumlahnya. Masing-masing penelitian ini sudah barnag tentu mempunyai sosok kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri, baik dari aspek substansi maupun aspek metodologisnya.

Mencermati secara seksama keadaan di atas, kini tampaknya perlu segera dilakukan reinventarisasi dan review (penglihatan ulang) secara kritis-apresiatif terhadap semua hasil-hasil penelitian yang sudah ada tersebut. Dalam kaitan ini, perlu pula diperhatikan berbagai kritik dan komentar serta saran-saran pengayaan analisis dan penajaman substansi demi perbaikan dan peningkatan kualitas berikut pemanfaatannya ke dalam suatu jaringan informasi penelitian agama. Untuk itu, forum Jaringan Penelitian (Jarlit) yang dulu sudah pernah ada perlu diaktifkan dan dihimpun kembali.

Memasuki milenium ketiga ini, kini sudah saatnya Departemen Agama lebih melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi berbagai kegiatan penelitian agama baik untuk kepentingan pengembangan ilmu-ilmu agama Islam (dirasat Islamiyah) itu sendiri maupun untuk kepentingan pengambilan kebijakan dan perencanaan Departemen Agama di masa depan.

B. Opini

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah sebagai khalifah dimuka bumi, dan tanpa disadari sesungguhnya merupakan beban berat yang harus dipinggul oleh manusia. Berdasarkan Qur’an surah Al-Ahzab 72, oleh sebab itu manusia dituntut untuk menciptakan dirinya bermanfaat untuk sesamanya, amanah yang digambarkan dalam surah Al-Ahzab 72 adalah tugas-tugas keagamaan yang harus terus diamalkan kepada semua umat manusia, adapun salah satu cara untuk mengemban amanah tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan proses belajar dan mengajar baik pelajaran umum maupun pelajaran agama, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW Bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Untuk itu kita harus dituntut untuk terus mengembangkan kompetensi kita, seiring perkembangan jaman.

Untuk dapat mengembangkan amanah yang telah dititipkan Allah SWT kepada manusia, adalah merupakan gambaran yang tersirat bahwa sesungguhnya manusia telah diajarkan untuk tetap menuntut ilmu sepanjang hayatnya, untuk menciptakan hal itu semua ada beberapa konsep dan saran yang diharapkan berguna bagi pelaksanaan Pendidikan Islam menuju masa depan yang cerah yang telah dibahas pada Bab sebelumnya, dan juga peran serta kita semua sebagai pengembang amanah berpengaruh pada tercapainya manah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama RI, Jakarta, 1973

Ali, A. Mukti, Beberapa Pertimbangan tentang Peningkatan Mutu IAIN dan Kurikulum, dalam Al-Jami’ah No. 01, 1971

—————, Alam Pemikiran Modern di Indonesia, Yogyakarta; Yayasan Nida, 1964

Vaizey, Jhon. Pendidikan di Dunia Modern, Terjemahan L. P. Murtini dari Education In The Modern World. Jakarta: Gunung Agung, 1982, hal 120

Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta; LP3ES, 1987

Ashraff, Ali. Horizon Pendidikan Islam, Terjemahan Sori Siregar. Jakarta: Pusataka Firdaus, 1993.

Faisal Ismail, Masa Depan Pendidikan Islam: Bakti Aksara Persada, Jakarta, 2003.

Drs. Hery Noer Aly, MA; Pendidikan Islam Kini dan Mendatang, CV. Triasco, Jakarta Utara, 2003.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s